
Ada rasa bahagia yang tak terlukiskan ketika tahu aku dijaga malaikat pelindung.
Ketika saya masih kanak-kanak, pernah ada pengalaman yang hingga kini tetap saya ingat. Seusai pulang sekolah dasar, Mamak menyuruh saya pergi ke sawah sendirian. Jaraknya cukup jauh sekitar lima kilometer dan harus melewati jalan yang sepi bahkan melalui hutan kecil.
Sebagai anak kecil, tentu saya merasa takut. Saya menolak dan berkata tidak berani. Namun Mamak menenangkan saya: “Tidak usah takut, Nak. Anak kecil itu ada malaikat yang menjaganya.”
Kata-kata itu membuat hati saya senang. Rasanya istimewa, karena saya merasa ditemani oleh malaikat. Walaupun tetap menolak untuk pergi sendirian, kata-kata Mamak itu tertanam dalam hati saya: bahwa anak kecil itu dijaga oleh malaikat.
Kini, setelah dewasa, saya sering merenungkan mengapa orang tua atau orang dewasa selalu meneguhkan anak-anak dengan kalimat itu: “Ada malaikat yang menjagamu.” Apakah itu sekadar kata penghiburan, atau sungguh sebuah kenyataan rohani?
Refleksi Injil Matius 18 tentang kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih Allah bagi anak-anak
Jika kita melihat banyak peristiwa yang terjadi, kata-kata itu bukan sekadar penghiburan. Bukankah sering kita dengar berita tentang anak kecil atau bayi yang selamat dari maut dengan cara yang tidak masuk akal? Baru-baru ini, di Kabupaten Grobogan, seorang bayi dibuang oleh ibu kandungnya di semak-semak bawah jembatan. Tiga hari lamanya ia ditelantarkan tanpa kain yang membalut tubuhnya. Secara logika, seharusnya bayi itu sudah tidak mungkin bertahan hidup. Namun kenyataannya, ia ditemukan masih hidup.
Bagi iman kita, peristiwa seperti itu adalah tanda bahwa sabda Yesus sungguh nyata: “Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena malaikat mereka di surga senantiasa memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.” (Matius 18:10).
Yesus ingin kita melihat anak kecil bukan sekadar makhluk rapuh yang perlu dilindungi, tetapi pribadi yang sangat berharga di hadapan Allah. Ada malaikat yang menjaga mereka, ada penyelenggaraan Ilahi yang menyertai hidup mereka.
Anak kecil tidak pernah berpikir tentang duniawi. Mereka lebih sering memikirkan kebahagiaan sederhana. Hati mereka polos, pikiran mereka belum diisi oleh hawa nafsu. Mereka menurut, asal merasa bahagia. Mereka juga tidak mengejar status atau kedudukan seperti orang dewasa.
Itulah sebabnya Yesus berkata: “Barangsiapa merendahkan diri seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar di Kerajaan Surga.” (Matius 18:4). Sabda ini menegaskan bahwa bukan hanya anak kecil yang mendapat upah dari Allah, tetapi siapa pun yang bersedia merendahkan diri dan memiliki hati seperti anak kecil.
Anak kecil menjadi simbol jiwa yang belum rusak oleh keserakahan, ambisi, dan nafsu dunia. Kesederhanaan dan kepolosan mereka adalah gambaran kerendahan hati yang dikehendaki Allah. Ketika kita rela meninggalkan kesombongan, melepaskan gengsi, dan kembali kepada hati yang tulus seperti anak kecil, saat itulah kita sedang berjalan menuju Kerajaan Surga.
Ada beberapa pelajaran dari Anak Kecil untuk direnungkan:
-
Allah memberi martabat istimewa kepada anak-anak. Mereka adalah cermin kesederhanaan, ketulusan, dan kepercayaan penuh pada Allah.
-
Malaikat pelindung nyata hadir. Tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai tanda kasih Allah yang menjaga hidup kita sejak kecil.
-
Kita dipanggil meneladani hati anak kecil. Dalam kerendahan hati dan ketulusan, kita menemukan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
-
Menghargai dan melindungi anak-anak berarti menghargai Allah sendiri. Menyakiti atau menelantarkan mereka sama saja melawan kehendak Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan