Sabtu, 13 September 2025

RENUNGAN IMAN KATOLIK: BUAH DARI HATI, DASAR DARI KRISTUS

Rutinitas Lunggu St. Joseph

Lunggu (perkumpulan) St. Joseph rutin berkumpul sekali dalam seminggu. Kali ini, keluarga A. Doan Sitanggang menjadi tuan rumah sekaligus penyedia tempat. Mereka juga mengundang Pastor untuk memimpin perayaan Ekaristi bersama.

Ada hal menarik yang terjadi sore itu. Musim kemarau panjang masih berlangsung, namun satu jam sebelum misa dimulai, hujan deras turun. Tuan rumah pun sempat gusar, bertanya-tanya, “Apakah umat akan datang? Apakah Pastor bisa tiba tepat waktu?” Mengingat jarak dari komunitas ke lokasi sekitar 10–15 menit, kegelisahan itu terasa wajar.

Misa di lunggu St. Joseph
Di rumah masing-masing, umat pun sempat tertahan, berdoa agar hujan segera reda. Namun di sisi lain, karena sebagian besar adalah petani, mereka juga bersyukur—sebab hujan adalah berkat yang lama dinantikan. Dan benar saja, lima belas menit sebelum misa dimulai, hujan berhenti. Udara menjadi sejuk, langit cerah dengan pemandangan indah. Seakan Tuhan ingin mengingatkan bahwa selalu ada alasan untuk bersyukur dalam keadaan apa pun.

Ketika acara hendak dimulai, umat mulai berdatangan dengan segala upaya mereka masing-masing. Tempat pun penuh, Pastor tiba, dan misa dimulai.

Renungan dari Injil Lukas 6:43–49

Pastor Elio Sihombing membawakan renungan dari Injil Lukas 6:43–49 tentang Pohon dan Buahnya serta Dua Dasar Rumah. Penyampaiannya hangat, sederhana, dan menyentuh, membuat suasana misa terasa akrab.

Yesus berkata:

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.”

Pastor menjelaskan bahwa pohon yang kering tidak akan pernah menghasilkan buah yang baik. Demikian juga manusia: tindakan adalah buah dari hati. Hati yang dipenuhi Roh Kudus akan memancarkan kasih, sukacita, pengampunan, dan kebaikan (Gal 5:22–23). Sebaliknya, hati yang dikuasai dosa menghasilkan kebencian, iri, dan kejahatan.

Yesus sesungguhnya menunjuk kepada diri-Nya sebagai “Pohon Baik” yang menghasilkan buah kehidupan. Barangsiapa tinggal di dalam Kristus akan berbuah lebat (Yoh 15:5). Maka manusia tidak dinilai hanya dari kata-kata atau penampilan luar, tetapi dari apa yang keluar dari hatinya.

Pesan ini menekankan integritas: iman dalam hati harus nyata dalam tindakan.

Lalu Yesus melanjutkan:

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” 

Pastor menegaskan, iman sejati tidak hanya diucapkan, melainkan diwujudkan dalam ketaatan. Menyebut Yesus “Tuhan” tidak cukup; pengikut Kristus sejati ditandai oleh perbuatan yang sesuai firman.

Rumah yang dibangun di atas batu adalah gambaran hidup yang berakar pada Kristus. Badai, banjir, dan angin melambangkan ujian kehidupan hingga penghakiman terakhir. Rumah yang kokoh adalah hidup yang berdasar pada Yesus; sedangkan rumah tanpa dasar melambangkan hidup yang rapuh, yang berakhir dalam kehancuran.

Dengan demikian, Yesus bukan sekadar pengajar moral, melainkan fondasi keselamatan. Mendengar tanpa melakukan sama dengan membangun rumah di atas pasir.

Keluarga Lunggu St Joseph

Diskusi Bersama Pastor

Setelah misa usai, makan bersama lalu umat masih melanjutkan dengan diskusi santai. Salah seorang bertanya tentang budaya Batak yang biasa mengadakan doa atau ritual bagi orang yang sudah meninggal.

Pasahat on dekke

Pastor menjawab bahwa umat Katolik memang mendoakan jiwa-jiwa yang telah meninggal, agar mereka beroleh kedamaian dan menjadi pendoa bagi yang masih hidup. Seperti halnya kita berdoa melalui para santo dan santa kepada Tuhan, demikian pula kita memohon doa dari orang tua yang sudah berpulang: “Tangiangkon hami, da Bapa/Uma” (Doakanlah kami, Bapak/Mamak).

Orang Batak sering berkata: “Martondi do na mangolu, marsahala do na mate.” Artinya, yang hidup memiliki sumber kehidupan, dan yang meninggal patut dihormati.

Namun Pastor mengingatkan, segala doa dan penghormatan tetap harus berpusat pada Tuhan. Segala sesuatu bersumber dari Dia, dan setiap tindakan kita harus dilakukan dalam nama-Nya. Kita tidak boleh bersandar pada kekuatan lain selain Tuhan sendiri.

Selain itu, Pastor juga berbicara mengenai peran Gereja. Bukan hanya dalam hal administratif dan pelayanan liturgi, tetapi juga hadir untuk membantu umat yang membutuhkan, termasuk dalam bidang pendidikan maupun ekonomi. Gereja terbuka terhadap ide-ide kreatif umat untuk membangun kesejahteraan bersama. Sayangnya, masih ada ide baik yang disampaikan umat tetapi tidak ditindaklanjuti.

Penutup

Waktu berjalan cepat. Diskusi baru selesai sekitar pukul 21.30, meski semangat umat masih terasa membara. Kami pun sepakat untuk mengakhirinya malam itu, sambil berjanji bertemu lagi di kesempatan lain.


Baca juga: Santo Carlo Acutis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...