Minggu, 21 September 2025

Renungan dari injil Lukas 16:1-13: BIJAKSANA DENGAN HARTA DUNIA UNTUK KEKAYAAN ABADI

Mengikuti Misa di Stasi Santa Maria Pardugul

Hari ini saya mengikuti Misa di Stasi Santa Maria Pardugul yang dipimpin oleh Pastor Theodorus Sitinjak. Sekilas tampak usia beliau sudah melewati 60 tahun, namun keramahannya memancarkan semangat muda: selalu tersenyum, menyapa siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Ada pengalaman menarik ketika saya berada di ruang pengurus gereja. Saat duduk sejenak berbincang, para pengurus menawarkan makanan kepada Pastor. Dengan santun—dan sedikit bumbu canda—beliau menolak: “Aduh, satu jam sebelum Misa sebaiknya hindari makanan ya…” ucapnya sambil tertawa ringan. Suasana pun mencair, disambut gelak tawa orang-orang yang hadir di ruangan itu.

Stasi Santa Maria Pardugul

Sebagai seorang Pastor senior, sepanjang waktu beliau berada di area gereja, senyum khasnya tak pernah lepas. Ada pula momen hangat ketika beliau memanggil seorang anak kecil sambil berkata: “Salam dulu sama Pastor.” Anak kecil itu berlari kecil menghampiri. Saya pun tersenyum sambil bertanya dalam hati: apa yang dirasakan anak itu saat Pastor memanggilnya?

Pesan Homili: Bijaksana dengan Harta Dunia

Dalam homilinya, Pastor menyampaikan pesan yang dalam, bersumber dari Injil Lukas 16:1–13. Intinya, Yesus mengingatkan kita untuk bijaksana mengelola harta dunia demi memperoleh kekayaan abadi. Bukan soal banyak atau sedikitnya harta, tetapi soal kesetiaan dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Ada tiga pokok renungan yang beliau sampaikan:

1. Setia pada Perkara Kecil

Pastor memberi contoh sederhana dari pengalaman hidupnya. Ketika ia bertugas membawakan Misa di Paroki Pangururan, sering ada umat yang menyelipkan uang ucapan terima kasih ke kantong jubahnya. Kadang ia lupa hingga jubah itu dicuci oleh orang lain. Suatu ketika, orang yang mencuci menemukan uang tersebut dan mengembalikannya. Pastor merasa sangat bersyukur: kejujuran kecil itu melahirkan rasa aman, nyaman, sekaligus memperkuat kepercayaan.

💬Dari perkara kecil lahir kesetiaan dan kejujuran. Dan mereka yang setia dalam hal kecil akan layak dipercaya untuk perkara yang lebih besar.

2. Mengelola Waktu, Talenta, dan Berkat

Pastor mengingatkan, setiap orang memiliki talenta dan waktu yang harus dikelola dengan baik. 

Ia mencontohkan petugas musik liturgi. Dengan belajar dan berlatih tanpa mengeluh, ia bukan hanya mengembangkan kemampuannya, tetapi juga menjadi berkat bagi umat. Kelak, ketika ada acara keluarga, orang pun akan mengandalkannya.

Contoh lain: soal mengatur waktu. Pernah Pastor melewati ladang di hari Minggu dan bertemu seorang umat yang sibuk bekerja. Sambil melambaikan tangan orang itu berkata, “Selamat Hari Minggu, Pastor!” Pastor membalas dengan senyum, tetapi dalam hati ia bertanya: mengapa bekerja di ladang menjadi alasan untuk tidak hadir di gereja?

💬Waktu adalah berkat. Bijaklah mengatur waktu untuk bekerja, dan jangan lupakan waktu untuk Tuhan.

3. Menolong yang Membutuhkan

Berkat yang kita terima—baik berupa harta, waktu, maupun talenta—tidak boleh berhenti pada diri kita sendiri.

Pastor mengibaratkan berkat seperti mata air: banyak orang menimba darinya, tetapi airnya tidak habis, malah terus mengalir. Begitu pula berkat dari Tuhan, semakin dibagikan, semakin melimpah.

💬Jangan ragu berbagi; tangan yang memberi tidak akan pernah kekurangan.

Sebagai penegasan atau penutup homili, Pastor mengingatkan: kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan sekaligus—Tuhan dan mamon. Jika hati kita terpaut pada mamon, kita akan kehilangan kemuliaan Tuhan. Tetapi jika kita mengarahkan hidup kepada Tuhan, kita dimampukan meninggalkan keterikatan pada mamon demi memperoleh kehidupan yang abadi.


Baca Juga: Dari Hal Sepele ke Hal Besar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...