Kalau lapar, kita butuh makanan. Kalau haus, kita butuh air. Kalau lelah, kita butuh istirahat. Saat kesepian, kita membutuhkan teman. Ketika sakit, kita mencari obat. Dan saat kita menyesali perbuatan yang tidak baik, tempat terbaik untuk datang adalah kepada-Nya.

Suatu ketika Yesus bertemu dengan seorang pemungut cukai bernama Lewi. Yesus memanggilnya untuk mengikuti Dia. Tanpa ragu, Lewi bangkit, meninggalkan pekerjaannya, lalu berjalan mengikuti Yesus.
Lewi kemudian mengadakan sebuah perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus. Banyak pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama Dia. Namun orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, sambil berkata: “Mengapa kamu makan dan minum bersama pemungut cukai dan orang berdosa?”
Yesus pun menjawab mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya mereka bertobat.”
Ya, bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Demikian pula, bukan orang yang merasa dirinya benar yang membutuhkan Tuhan, melainkan mereka yang sadar akan dosanya dan bersedia bertobat.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh membutuhkan Dia? Jangan sampai kesombongan rohani membuat kita merasa cukup benar, hingga tanpa sadar menjauhkan diri dari Tuhan. Sebab Yesus datang justru bagi kita—orang berdosamyang mau bertobat dan bersedia mengikuti Dia.
Baca Juga: Saat Abu Menyapa: Mengingat Kerendahan, Menemukan Kedamaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan