Jejak Abu, Jejak Pertobatan
Ketika abu ditorehkan di dahi, terdengar lantunan kata yang sederhana namun begitu dalam: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah, engkau adalah debu, dan akan kembali menjadi debu.”
Di dalam Gereja Katolik, abu bukan sekadar simbol, melainkan tanda kerendahan hati, ajakan untuk pertobatan, sekaligus pengingat bahwa hidup ini rapuh dan fana.
1. Jangan beribadah demi dilihat orang
Dalam keluarga, kita sering menyiapkan banyak hal sebelum misa: berdiskusi tentang waktu, tempat, bahkan warna busana liturgi. Ada yang mempersiapkan buku nyanyian, ada pula yang menjaga anak kecil agar tidak mengganggu suasana misa. Sekilas hal-hal ini tampak sederhana, namun sesungguhnya di situlah niat kita diuji.
Apakah kita melakukannya demi orang lain? Ataukah murni untuk menyembah Tuhan?
Ketika niat kita jernih, kita tak lagi sibuk menilai kekurangan orang lain. Hati menjadi damai, ibadah pun tulus mengalir. Begitu juga dengan puasa: tidak perlu diumumkan, tidak perlu ditonjolkan. Karena puasa sejati bukanlah beban bagi orang lain, melainkan jalan sunyi yang kita tempuh bersama Tuhan.
2. Memberilah dengan sembunyi
“Hati yang gembira adalah obat.” Kalimat itu terasa nyata ketika memberi dengan tulus. Sebab bila memberi hanya demi pujian atau balasan, hati kita akan kecewa saat yang ditunggu tak kunjung datang. Dari situlah tumbuh amarah, penyesalan, bahkan penyakit batin.
Dan ketika abu salib menempel di dahi, saya kembali diingatkan: saya hanyalah debu di telapak kaki-Nya. Namun justru dalam kerendahan itulah, kasih-Nya mengangkat dan membimbing setiap langkah kehidupan.
Baca Juga: LUNGGU SANTO JOSEPH STASI SANTA MARIA PARDUGUL
Finding peace in everyday moments

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan