Hari ini kita memasuki Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah. Masa ini ditetapkan 40 hari sebelum Paskah (tidak termasuk hari Minggu). Nama Rabu Abu sendiri berasal dari tradisi pengolesan abu pertobatan di dahi jemaat, disertai ucapan: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” atau “Ingatlah, engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Abu yang digunakan berasal dari pembakaran daun palma perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.
Tahun ini, Rabu Abu memberi saya pengingat yang begitu dalam. Saya teringat akan perumpamaan Yesus tentang lalang (perusak) dan gandum (kehidupan) dalam Matius 13:24–30. Lalu saya bertanya pada diri sendiri: Apakah saya ladang yang dimaksud? Apakah dalam diri saya tumbuh lalang atau gandum?
Semakin saya merenung, saya sadar bahwa di dalam diri ini ada keduanya: lalang dan gandum. Keduanya bisa tumbuh, tergantung mana yang saya rawat. Maka saya memilih untuk merawat gandum, sebab pada akhirnya ada panen yang ditunggu: harapan, kehidupan, dan warisan yang bisa saya teruskan kepada anak-anak.
Di hari Rabu Abu ini, saya merasa diajak kembali untuk memupuk, menyiram, dan merawat gandum dalam hidup saya. Untuk mencari makna, menemukan tujuan, serta belajar berbuat baik dengan penuh kesadaran. Rabu Abu mengingatkan saya akan kebesaran Tuhan, mengajak saya untuk berlutut, berbicara dengan-Nya dalam kerendahan hati, dan menyadari bahwa hidup ini sepenuhnya bergantung pada-Nya.
Mari kita berhenti sejenak, merenungkan setiap hari yang kita jalani, terutama di masa Pra-Paskah ini. Semoga setiap langkah membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.
Baca Juga :LUNGGU SANTO JOSEPH STASI SANTA MARIA PARDUGUL
Because the soul needs a pause
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan