"Belajar hidup sederhana dan beriman bersama Santo Joseph. Refleksi, renungan, dan inspirasi rohani untuk membangun hidup yang kuat dalam kasih Tuhan."
Senin, 17 Maret 2025
Suami bersama Santo Joseph
Selasa, 11 Maret 2025
Fondasi dari doa adalah hati yang bersih dari benci, iri, sakit hati, dan keegoisan.
Berdoa Seperti yang Dia Ajarkan
Doa adalah jalan bagi kita untuk berseru kepada-Nya. Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan perintah Allah yang disertai dengan janji-Nya. Melalui doa, kita datang ke hadapan-Nya dan mendekat kepada Sang Sumber Kehidupan.
Ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya, Ia menekankan bahwa kita tidak boleh berdoa seolah-olah tidak mengenal Allah. Kita tidak perlu menggunakan banyak kata dengan harapan bahwa Tuhan akan lebih memperhatikan. Sebab, Bapa di surga telah mengetahui apa yang kita perlukan, bahkan sebelum kita memintanya.
Yesus memberikan teladan melalui Doa Bapa Kami—sebuah doa yang mencakup permohonan pengampunan, yang sejalan dengan kesediaan kita mengampuni orang lain. Ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya tentang permintaan, tetapi juga transformasi hati.
Yang paling penting, Yesus mengingatkan bahwa dalam berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Barulah Bapa akan mengampuni kita. Ini berarti bahwa fondasi dari doa adalah hati yang bersih dari benci, iri, sakit hati, dan keegoisan.
Sayangnya, kita sering kali berdoa hanya karena kebiasaan atau formalitas. Kadang doa hanya menjadi simbol identitas—bukan relasi. Kita lebih sibuk menyampaikan keinginan, daripada mendengarkan apa yang sebenarnya Dia ajarkan. Padahal kita sadar: hidup kita sepenuhnya bergantung pada-Nya.
Mari kita belajar dan melatih diri untuk berdoa seperti yang Tuhan Yesus ajarkan. Doa yang sungguh-sungguh, lahir dari hati yang rendah, dan penuh pengampunan. Dengan demikian, kita tidak hanya menyampaikan permohonan, tetapi juga mengalami perjumpaan sejati dengan-Nya.
Senin, 10 Maret 2025
Tak perlu menunggu besar untuk mengasihi, cukup mulai dari sekitar kita
"Mencintai Tuhan Lewat Sesama: Belajar Dari Injil Matius 25:31-46"
Pernahkah kita berpikir, mengapa damai terasa jauh? Barangkali karena kita lupa bahwa damai bukanlah sesuatu yang dicari di luar, melainkan tumbuh dari dalam hati yang dipenuhi cinta kasih. Saat kasih hadir dalam diri, ia memancar dan melingkupi lingkungan kita. Di sanalah Tuhan hadir, bukan dalam rupa yang megah, tetapi dalam wajah-wajah sederhana yang kita temui setiap hari.
Jika di dalam dirimu tumbuh cinta kasih, maka damai akan mengelilingi hidupmu. Dan jika kedamaian hadir di sekitarmu, cinta kasih itu pun akan terus bertumbuh dalam dirimu dan dalam hati orang-orang di sekitarmu.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa mencintai-Nya bukan sekadar dengan kata-kata atau ritual semata, melainkan dengan menjalankan apa yang Dia ajarkan. Dia tidak meminta kita berbuat demi-Nya karena kebutuhan-Nya, tetapi agar melalui tindakan kasih kita, kasih-Nya dinyatakan di dunia. Yesus bahkan menegur: bagaimana mungkin kita berkata mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, jika kita mengabaikan orang-orang terdekat yang setiap hari kita lihat?
Dalam Injil Matius 25:31-46, Yesus menggambarkan penghakiman terakhir. Sang Raja memisahkan mereka yang mengasihi sesama terutama yang hina, miskin, dan tersingkir dan menempatkan mereka di sebelah kanan-Nya. Kepada mereka yang bertanya, “Tuhan, apakah kami melihat Engkau lapar, haus, telanjang, atau dipenjara?”, Raja menjawab:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Pesan ini menjadi sangat kuat di masa Prapaskah. Masa ini bukan sekadar tentang menahan diri, tetapi tentang melatih kepekaan hati, membuka mata terhadap penderitaan orang lain, dan menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata.
Mari kita mulai dari lingkaran terkecil: keluarga kita sendiri. Hadirkan kasih, pengertian, dan perhatian. Lalu perluas ke komunitas, lingkungan gereja, dan siapa pun yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita.
Semoga Tuhan menyertai setiap langkah kita, membimbing kita untuk terus belajar dan perlahan-lahan mempraktikkan ajaran kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Be strong, be different, be you
Minggu, 09 Maret 2025
Latihan Menjadi Pemenang: Dari Hal Sepele ke Hal Besar
Godaan Kecil yang Membawa Pesan Besar
Saya pernah membuat sebuah niat sederhana: tidak makan berat di atas jam tujuh malam. Tujuannya jelas, supaya tubuh lebih sehat dan terhindar dari penyakit gula. Selama seminggu, niat itu berjalan lancar.
Namun, suatu malam ada yang membawa daging babi panggang ke rumah. Wangi aromanya begitu menggoda. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Awalnya saya menolak, tapi orang-orang di sekitar berkata, “Sayang kalau dibuang, besok rasanya sudah tidak enak lagi.”

Pikiran saya pun mulai goyah: ya atau tidak?
Hati kecil saya ingin tetap berpegang pada niat, tapi kata-kata “sayang kalau dibuang” terus terngiang. Akhirnya saya menyerah dan memilih untuk makan. Sejak saat itu, perlahan saya mulai sering melanggar janji kecil pada diri sendiri.
Ketika membaca Lukas 4:1-14 tentang Yesus yang dicobai iblis di padang gurun, saya merasa tersentuh. Yesus berpuasa empat puluh hari, tentu saja Ia lapar. Iblis tahu Yesus sanggup membuat mujizat, lalu mencobainya: “Ubah batu menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab tegas, “Manusia hidup bukan dari roti saja.”
Iblis lalu menawarkan kuasa atas seluruh kerajaan dunia dengan syarat Yesus menyembahnya. Yesus menolak dengan tegas, “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
Iblis tidak berhenti. Ia mencobai Yesus dengan mengutip ayat Kitab Suci, menyuruh-Nya menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah supaya malaikat menolong-Nya. Namun Yesus menjawab, “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
Yesus menang melawan godaan. Ia tetap setia kepada Bapa-Nya.
Dari kisah ini, saya belajar bahwa pencobaan datang bukan hanya dalam perkara besar, tapi juga lewat hal-hal kecil yang tampak sepele.
-
Cobaan pertama: Iblis mengajak Yesus lepas dari ketergantungan kepada Bapa. Sama seperti saya yang menyerah pada godaan makanan malam, memilih kenikmatan sesaat daripada tujuan jangka panjang.
-
Cobaan kedua: Iblis menawarkan kekuasaan. Saya pun pernah merasa berkuasa atas diri sendiri, berpikir bisa dengan mudah memulai lagi besok. Padahal itu hanyalah cara halus membenarkan kelemahan diri.
-
Cobaan ketiga: Iblis menguji kesetiaan Allah. Begitu pula saya, sering meragukan niat baik yang sudah saya rencanakan, lalu mudah sekali membatalkannya.
Iblis selalu tahu momentum terbaik untuk menggoda orang yang berniat baik. Karena itu, niat baik sekecil apapun tidak bisa dijalani hanya dengan mengandalkan diri sendiri. Kita perlu meminta pimpinan Tuhan: lewat doa, firman, lagu rohani, bahkan lewat menulis dan merenungkan tentang Dia.
Yesus menang karena berpegang teguh pada firman Allah. Saya pun ingin belajar hal yang sama. Godaan memang tidak pernah hilang, tapi bersama Tuhan, saya percaya bisa melaluinya.
Hari ini saya mungkin kalah, tetapi besok saya mau berlatih lagi.
Dan semoga suatu hari nanti, saya menjadi pemenang. 💪😊

Baca juga: YESUS datang bagi yang membutuhkan-NYA
Sabtu, 08 Maret 2025
YESUS datang bagi yang membutuhkan-NYA
Kalau lapar, kita butuh makanan. Kalau haus, kita butuh air. Kalau lelah, kita butuh istirahat. Saat kesepian, kita membutuhkan teman. Ketika sakit, kita mencari obat. Dan saat kita menyesali perbuatan yang tidak baik, tempat terbaik untuk datang adalah kepada-Nya.

Suatu ketika Yesus bertemu dengan seorang pemungut cukai bernama Lewi. Yesus memanggilnya untuk mengikuti Dia. Tanpa ragu, Lewi bangkit, meninggalkan pekerjaannya, lalu berjalan mengikuti Yesus.
Lewi kemudian mengadakan sebuah perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus. Banyak pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama Dia. Namun orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, sambil berkata: “Mengapa kamu makan dan minum bersama pemungut cukai dan orang berdosa?”
Yesus pun menjawab mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya mereka bertobat.”
Ya, bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Demikian pula, bukan orang yang merasa dirinya benar yang membutuhkan Tuhan, melainkan mereka yang sadar akan dosanya dan bersedia bertobat.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh membutuhkan Dia? Jangan sampai kesombongan rohani membuat kita merasa cukup benar, hingga tanpa sadar menjauhkan diri dari Tuhan. Sebab Yesus datang justru bagi kita—orang berdosamyang mau bertobat dan bersedia mengikuti Dia.
Baca Juga: Saat Abu Menyapa: Mengingat Kerendahan, Menemukan Kedamaian
Jumat, 07 Maret 2025
Puasa: Dari Rutinitas Menuju Relasi Sejati dengan Tuhan
Di dalam diri manusia selalu ada dua sisi yang berjalan berdampingan: positif (+) dan negatif (–), kebaikan dan kejahatan, kedamaian dan pertengkaran, ketenangan dan emosi, rasa kenyang dan rasa lapar, kelembutan dan kekasaran, serta banyak lagi yang silih berganti.
Sering kali, kita lebih mudah jatuh pada hal-hal negatif, meski kemudian diikuti dengan penyesalan yang terlambat datang.
Injil Matius 9:14–15 menyingkapkan sebuah perumpamaan yang diajarkan Yesus. Ketika murid-murid Yohanes bertanya:
"Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
Yesus menjawab:
"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

Murid-murid Yohanes hanya melihat puasa sebagai kewajiban agama, sebuah aturan yang mesti ditaati, bahkan kadang berfokus pada penilaian orang lain. Mereka luput menyingkap inti sejati dari puasa itu sendiri.
Lewat perumpamaan itu, Yesus menegaskan bahwa puasa adalah kerinduan hati ketika Sang Mempelai—Tuhan Yesus—tidak lagi hadir di dalam diri. Kesibukan, rutinitas, ego, kesombongan, atau amarah sering kali membuat kita jauh dari-Nya, sehingga hati menjadi kering dan hubungan dengan sesama pun retak. Di saat seperti inilah kita dipanggil untuk berpuasa: menahan diri, menundukkan ego, dan membuka ruang kembali bagi Tuhan.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan sebuah perjalanan mencari, merasakan, dan merangkul kasih Tuhan. Sebab ketika Sang Mempelai berdiam di dalam hati, maka yang negatif akan mereda, dan hidup dipenuhi dengan damai, kasih, serta sukacita—bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar kita.
Nothing can bring you peace but yourselft
Kamis, 06 Maret 2025
Kebiasaan kecil menahan keinginan
Menyangkal Diri: Belajar Menahan Keinginan Daging
Keinginan adalah perasaan ingin memiliki atau melakukan sesuatu, tanpa mempertimbangkan apakah hal itu benar-benar mendesak atau penting. Ia muncul tanpa urgensi—bisa sekarang, bisa nanti—dan sering kali tidak mendasar serta tidak esensial.
Dalam renungan hari Kamis setelah Rabu Abu (Lukas 9:22-25), Yesus berkata:"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."
Ada tiga syarat yang disebutkan Yesus bagi siapa saja yang ingin menjadi murid-Nya:
-
Menyangkal diri,
-
Memikul salib setiap hari,
-
Mengikut Dia.
Di masa puasa ini, saya tertarik untuk belajar lebih dalam tentang menyangkal diri, sebagai bagian dari panggilan iman. Bagi saya, menyangkal diri berarti tidak mengikuti keinginan daging—meletakkan kebenaran lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.
Keinginan daging bukan hanya soal makanan, minuman, atau barang-barang. Ia bisa tersembunyi dalam bentuk lain yang lebih halus:
-
Membicarakan keburukan orang lain,
-
Bahasa tubuh yang menyakiti,
-
Pikiran negatif terhadap sesama.
Hal-hal ini sering kali terjadi bukan karena niat jahat, tetapi karena kebiasaan yang sudah terlanjur mengakar. Kalau soal makanan, minuman, atau belanja, mungkin saya bisa tahan—karena memang sudah ada "peraturan tidak tertulis" di rumah kami 😄.
Namun di masa puasa ini, saya tertantang untuk melatih diri menahan pikiran negatif terhadap semua ciptaan-Nya. Salah satu cara sederhana yang saya temukan adalah menyibukkan pikiran dengan hal-hal positif, seperti menulis artikel renungan ini—sambil menyeruput kopi, memandangi tenangnya Gunung Pusuk Buhit.
Bagaimana dengan kamu, saudara terkasih?
Kebiasaan baru apa yang sedang kamu latih di masa puasa ini?
Rabu, 05 Maret 2025
Saat Abu Menyapa: Mengingat Kerendahan, Menemukan Kedamaian
Jejak Abu, Jejak Pertobatan
Ketika abu ditorehkan di dahi, terdengar lantunan kata yang sederhana namun begitu dalam: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah, engkau adalah debu, dan akan kembali menjadi debu.”
Di dalam Gereja Katolik, abu bukan sekadar simbol, melainkan tanda kerendahan hati, ajakan untuk pertobatan, sekaligus pengingat bahwa hidup ini rapuh dan fana.
1. Jangan beribadah demi dilihat orang
Dalam keluarga, kita sering menyiapkan banyak hal sebelum misa: berdiskusi tentang waktu, tempat, bahkan warna busana liturgi. Ada yang mempersiapkan buku nyanyian, ada pula yang menjaga anak kecil agar tidak mengganggu suasana misa. Sekilas hal-hal ini tampak sederhana, namun sesungguhnya di situlah niat kita diuji.
Apakah kita melakukannya demi orang lain? Ataukah murni untuk menyembah Tuhan?
Ketika niat kita jernih, kita tak lagi sibuk menilai kekurangan orang lain. Hati menjadi damai, ibadah pun tulus mengalir. Begitu juga dengan puasa: tidak perlu diumumkan, tidak perlu ditonjolkan. Karena puasa sejati bukanlah beban bagi orang lain, melainkan jalan sunyi yang kita tempuh bersama Tuhan.
2. Memberilah dengan sembunyi
“Hati yang gembira adalah obat.” Kalimat itu terasa nyata ketika memberi dengan tulus. Sebab bila memberi hanya demi pujian atau balasan, hati kita akan kecewa saat yang ditunggu tak kunjung datang. Dari situlah tumbuh amarah, penyesalan, bahkan penyakit batin.
Dan ketika abu salib menempel di dahi, saya kembali diingatkan: saya hanyalah debu di telapak kaki-Nya. Namun justru dalam kerendahan itulah, kasih-Nya mengangkat dan membimbing setiap langkah kehidupan.
Baca Juga: LUNGGU SANTO JOSEPH STASI SANTA MARIA PARDUGUL
Finding peace in everyday moments
Refleksi Rabu Abu: Merawat Gandum dalam Hidup
Hari ini kita memasuki Rabu Abu, hari pertama masa Pra-Paskah. Masa ini ditetapkan 40 hari sebelum Paskah (tidak termasuk hari Minggu). Nama Rabu Abu sendiri berasal dari tradisi pengolesan abu pertobatan di dahi jemaat, disertai ucapan: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” atau “Ingatlah, engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Abu yang digunakan berasal dari pembakaran daun palma perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.
Tahun ini, Rabu Abu memberi saya pengingat yang begitu dalam. Saya teringat akan perumpamaan Yesus tentang lalang (perusak) dan gandum (kehidupan) dalam Matius 13:24–30. Lalu saya bertanya pada diri sendiri: Apakah saya ladang yang dimaksud? Apakah dalam diri saya tumbuh lalang atau gandum?
Semakin saya merenung, saya sadar bahwa di dalam diri ini ada keduanya: lalang dan gandum. Keduanya bisa tumbuh, tergantung mana yang saya rawat. Maka saya memilih untuk merawat gandum, sebab pada akhirnya ada panen yang ditunggu: harapan, kehidupan, dan warisan yang bisa saya teruskan kepada anak-anak.
Di hari Rabu Abu ini, saya merasa diajak kembali untuk memupuk, menyiram, dan merawat gandum dalam hidup saya. Untuk mencari makna, menemukan tujuan, serta belajar berbuat baik dengan penuh kesadaran. Rabu Abu mengingatkan saya akan kebesaran Tuhan, mengajak saya untuk berlutut, berbicara dengan-Nya dalam kerendahan hati, dan menyadari bahwa hidup ini sepenuhnya bergantung pada-Nya.
Mari kita berhenti sejenak, merenungkan setiap hari yang kita jalani, terutama di masa Pra-Paskah ini. Semoga setiap langkah membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.
Baca Juga :LUNGGU SANTO JOSEPH STASI SANTA MARIA PARDUGUL
Because the soul needs a pause
Lunggu Santo Joseph
TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA
Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...
-
Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...
-
Lunggu Santo Joseph: Menjadi Contoh, Kehidupan, dan Kemuliaan bagi Tuhan Dalam kehidupan umat Katolik, khususnya di komunitas Batak, istila...
-
Rutinitas Lunggu St. Joseph Lunggu (perkumpulan) St. Joseph rutin berkumpul sekali dalam seminggu. Kali ini, keluarga A. Doan Sitanggang men...




.jpeg)