Selasa, 29 Juli 2025

"Ada saatnya logika terdiam, dan hanya iman yang berbicara. Datanglah kepada-Nya, dengan hati yang percaya, sebab di hadapan-Nya, yang mustahil pun menjadi nyata."

Bisa kita bayangkan seseorang yang kehilangan sahabat atau anggota keluarga yang sangat dikasihi. Dalam kesedihan itu, keluarga besar dan para sahabat datang memberi penghiburan melalui kata-kata penguatan dan doa-doa yang dipanjatkan. Dengan air mata yang deras, keluarga yang berduka sering berkata, “Seandainya saja ada dokter yang tepat, mungkin hal ini tidak akan terjadi.”

Di tengah suasana duka, banyak orang mendekat, memeluk keluarga yang berduka, dan berkata, “Sabar ya… Tuhan Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Percayalah, karena kematian bukanlah akhir.”

Seperti ketika ada pasien yang kritis, keluarga akan segera membawanya ke rumah sakit dengan harapan keadaannya membaik. Ketika menunggu di UGD, mereka belum merasa tenang sampai dokter yang tepat datang. Saat dokter hadir dan menangani pasien tersebut, keluarga merasa lebih lega, meskipun belum tahu secara pasti bagaimana cara kerja sang dokter. Mereka percaya karena yakin bahwa sang dokter mampu menolong.

Iman yang sama dapat kita pelajari dari kisah Marta dalam Yohanes 11:19-27Banyak orang Yahudi datang menghibur Marta dan Maria atas kematian saudara mereka, Lazarus. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia segera menemui-Nya, sementara Maria tetap tinggal di rumah. Marta berkata kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”
Yesus menjawab, “Saudaramu akan bangkit.”
Marta berkata, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”
Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Marta menjawab, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Marta menunjukkan iman yang besar. Ia percaya bahwa Yesus memiliki kuasa dari Allah, meskipun ia belum sepenuhnya memahami bahwa Yesus adalah sumber kehidupan itu sendiri.
Dari kisah Marta ini, kita belajar banyak hal:
  1. Datanglah kepada Yesus dalam segala keadaan. Saat memiliki beban atau keinginan, kita boleh melampiaskannya kepada-Nya dengan cara kita masing-masing.

  2. Iman melampaui logika. Marta percaya akan kebangkitan di akhir zaman, tetapi Yesus menunjukkan kuasa-Nya saat itu juga.

  3. Yesus mampu membangkitkan harapan. Dalam duka, kita mungkin merasa segalanya telah berakhir, tetapi Yesus sanggup memulihkannya kembali.

  4. Jangan menjauh dari Tuhan. Seperti Marta yang segera menemui Yesus, kita pun harus datang kepada-Nya dan menceritakan segala pergumulan kita dengan iman.

Apapun tantangan hidup kita, datanglah kepada Yesus. Ia tidak hanya mendengar, tetapi juga sanggup bekerja melampaui apa yang kita pikirkan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...