Raja Herodes adalah seorang raja yang sebenarnya mengenal kebenaran. Ia bahkan senang mendengar ajaran Yohanes Pembaptis. Namun, ketika tiba saat harus membuat keputusan, ia tidak bersandar pada nuraninya, melainkan pada gengsi dan pandangan orang lain. Inilah gambaran manusia yang rapuh: tahu kebenaran, tetapi tidak berani melakukannya karena takut kehilangan kehormatan dan citra di depan sesama.
Yohanes Pembaptis akhirnya dipenjara karena berani menegur dosa Herodes, yang mengambil Herodias, istri saudaranya, sebagai pasangan. Herodias menyimpan dendam, dan melalui tipu muslihat di pesta ulang tahun Herodes, Yohanes dipenggal. Kepalanya diserahkan di sebuah talam kepada putri Herodias. Suara kebenaran dibungkam, namun kebenaran itu sendiri tetap hidup.
Sesungguhnya, kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Keputusan untuk hidup baik atau tidak datang dari dalam diri, bukan dari tekanan luar. Menjadi pemimpin sejati berarti pertama-tama menjadi tuan atas diri sendiri: berani mengatakan “ya” pada yang baik dan “tidak” pada yang merusak.
Seorang pemimpin diri berjalan lurus dalam prinsip, meski dunia sekitarnya berubah-ubah. Ia tidak diperbudak oleh ketakutan, gengsi, atau emosi, melainkan memimpin dirinya dengan ketenangan batin.
Semoga kita tidak menjadi seperti Herodes yang lemah oleh gengsi, melainkan seperti Yohanes yang teguh berdiri di atas kebenaran. Karena lebih baik kehilangan muka di hadapan manusia, daripada kehilangan kebenaran di hadapan Allah.
Mari kita terus belajar dan berlatih menjadi pemimpin bagi diri sendiri, agar setiap langkah hidup kita selalu dituntun oleh kebenaran, bukan oleh gengsi atau ketakutan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan