Jumat, 15 Agustus 2025

Takut Menikah? Renungan Matius 19:3–12 tentang Pernikahan Kristen

Banyak orang di zaman sekarang memilih untuk tidak menikah. Alasannya beragam: takut menambah masalah, takut menghadapi drama rumah tangga, atau takut pernikahan berakhir dengan perceraian. Kekhawatiran ini nyata, apalagi ketika banyak mendengar kisah perselingkuhan dan keluarga “broken home.”

Foto disaat saling mempelajari sebelum menyatu

Namun, Injil Matius 19:3–12 mengingatkan kita bahwa perkawinan bukanlah sekadar urusan manusia. Ada karya Allah yang hidup di dalamnya.

Firman Tuhan: Matius 19:3–12

Yesus berkata:

“Sejak semula Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:4–6)

Perkawinan adalah karya Allah. Itulah sebabnya, dalam mengambil keputusan untuk menikah, kita tidak boleh hanya digerakkan oleh rasa takut, melainkan oleh iman dan kepercayaan kepada Allah.

Pertimbangan dalam Mengambil Keputusan Menikah

1. Menjadikan Allah Pusat Keputusan

Allah adalah Pemilik hidup kita. Maka, keputusan terbesar—termasuk memilih pasangan hidup—harus diserahkan kepada-Nya. Doa, firman, dan bimbingan Roh Kudus menjadi penuntun.

2. Kesatuan Iman

Iman yang sejalan akan menjadi fondasi yang kokoh dalam keluarga. Suami dan istri yang bertumbuh bersama dalam iman akan lebih mudah menghadapi badai kehidupan.

3. Karakter dan Komitmen

Sebelum menikah, perhatikan karakter pasangan: apakah ia setia, mau bertumbuh, dan siap mengampuni? Pernikahan bukan sekadar cinta, tetapi juga komitmen seumur hidup.

4. Diskusi dengan Keluarga dan Komunitas

Nasihat orangtua, keluarga, dan komunitas rohani sangat berharga. Tuhan bisa berbicara melalui orang-orang di sekitar kita untuk membuka mata dan hati kita.

Hidup ini penuh pilihan. Jika ketakutan menjadi dasar, kita tidak akan pernah melangkah. Tetapi bila iman menjadi dasar, kita akan berani berjalan bersama Allah.

Seperti pelaut yang berani menghadapi badai demi sampai ke pulau yang indah, demikian juga perkawinan: di balik risiko, ada janji dan karya Allah yang indah.

Kiranya setiap keputusan untuk menikah berlandaskan iman, agar setiap keluarga Kristen menjadi saksi kasih Kristus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...