Rabu, 20 Agustus 2025

Renungan Matius 20:1-12: Belajar Bersyukur, Berhenti Membandingkan

Dalam perumpamaan Injil Matius 20:1–12, Yesus menceritakan seorang tuan kebun anggur yang memberikan upah sama kepada para pekerja, baik yang datang sejak pagi maupun yang datang menjelang sore. Para pekerja yang lebih dahulu merasa iri dan protes, tetapi sang tuan menjawab:

“Tidakkah aku bebas menggunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”

Foto Aksi Puasa 2025, lunggu St Joseph
Sesungguhnya yang menggelisahkan para pekerja itu bukanlah kurangnya upah, melainkan perasaan iri hati yang lahir dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Mereka lupa bahwa apa yang dijanjikan sang tuan sudah diterima sepenuhnya, tidak kurang sedikit pun.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali mata kita lebih sibuk memandang apa yang dimiliki orang lain, sampai-sampai hati menjadi resah. Pikiran kita terganggu, bahkan berubah negatif, padahal sebenarnya hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Akibatnya, kita dirugikan oleh pikiran kita sendiri: kehilangan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, yakni sikap hati kita, bukan tindakan orang lain.

Cara paling sederhana untuk menumbuhkan rasa syukur adalah dengan berhenti membandingkan. Fokuslah pada apa yang ada dalam diri kita, pada apa yang kita miliki, sambil mengingat siapa Pemilik sejati dari semuanya itu. Dialah Allah, yang bebas menggunakan milik-Nya sesuai kehendak hati-Nya, demi kebaikan dan kemurahan-Nya.

Yesus menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil hitung-hitungan manusia. Maka, alih-alih iri hati, kita diajak untuk hidup tenang dalam syukur, menerima dengan lapang dada bahwa Allah berdaulat memberi karunia kepada siapa pun yang Ia kehendaki.

Sadarilah: semua yang kita terima adalah kasih karunia Allah — dan itu sudah cukup.

Seperti para pekerja di kebun anggur, kita pun dipanggil dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Namun damai sejati tidak terletak pada perbandingan atau perhitungan, melainkan pada kesediaan hati untuk menerima bahwa kasih Allah selalu sempurna bagi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...