Kamis, 07 Agustus 2025

KETIKA LIDAH MENGAKU, TAPI HATI MENOLAK

Ketika Iman Diuji oleh Luka Hati

Ada seorang pria Katolik bernama Pettrick. Ia dikenal taat dan aktif: rajin mengikuti misa, aktif dalam komunitas rohani, dan ke mana pun ia pergi, ia tak ragu menunjukkan identitas imannya—dengan kalung salib di leher dan rosario di saku.

Suatu hari, keluarganya mengadakan pertemuan besar. Kerabat dari berbagai kota datang, suasana penuh canda dan tawa. Di tengah kegembiraan itu, seorang sepupu berseloroh,

“Hei Pettrick, kamu sudah umur segini kok belum menikah juga?”

Pettrick langsung tersinggung. Dengan nada keras dan muka memerah, ia menjawab,

“Itu bukan urusanmu!”

Lalu beranjak pergi dan mengurung diri di kamar.

Orangtua dan keluarga mencoba menenangkan. Mereka mengetuk pintu, bahkan meminta maaf, tapi Pettrick tetap diam dalam kemarahannya. Ibunya akhirnya masuk ke kamar dan berkata,

“Nak, Ibu tahu kamu mengasihi Yesus. Ibu lihat kamu rajin berdoa, aktif di gereja. Tapi pengikut Yesus juga harus bisa mengampuni, apalagi sebelum hari ini berakhir. Jangan biarkan amarahmu tinggal lebih lama dari kasih.”

Pettrick menjawab ketus,

Ama Lunggu St Joseph

“Saya bukan Yesus!”

Ucapan Pettrick mungkin terasa familiar. Banyak dari kita yang percaya kepada Yesus, namun saat harga diri tersinggung atau luka hati terasa dalam, kita berkata:

“Saya ini manusia biasa, bukan Yesus.”

Ya, kita memang bukan Yesus. Tapi kita adalah pengikut-Nya. Dan pengikut dipanggil bukan hanya untuk percaya, tapi juga untuk menghidupi ajaran-Nya—termasuk mengampuni, bahkan saat itu terasa berat.

📖 Mari kita ingat kembali Matius 16:13–23: 

Ketika Yesus bertanya,

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?”

Simon Petrus menjawab dengan luar biasa,

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Yesus memuji Petrus karena pengakuan itu berasal dari pewahyuan Allah sendiri. Ia bahkan berkata,“Di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”

Namun tak lama kemudian, saat Yesus mulai menceritakan penderitaan dan kematian-Nya, Petrus langsung menolak:

“Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi pada-Mu!”

Yesus pun menegur keras:

“Enyahlah Iblis! Engkau menjadi batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”


🪨 Dari Batu Karang Menjadi Batu Sandungan

Petrus yang awalnya teguh, bisa juga jatuh karena cara pandangnya masih duniawi. Sama seperti Pettrick: ia percaya, tapi saat diuji oleh ejekan kecil, ia tak sanggup mengampuni.

Kita pun sering begitu. Kita ikut misa, pakai simbol salib, berdoa rosario, tapi saat disakiti, kita memilih menjauh daripada mengampuni.

Padahal Yesus mengajar,

“Ampunilah, maka kamu akan diampuni.” (Luk 6:37)

🕊️ Penutup Renungan:

Mengikuti Yesus bukan hanya soal simbol di luar, tapi komitmen di dalam:

  • Belajar mengampuni meski terluka,

  • Belajar rendah hati meski merasa benar,

  • Belajar taat meski jalan-Nya berat.

Iman kita akan diuji, seperti Petrus, seperti Pettrick. Tapi jangan takut gagal—karena Yesus tidak menyerah pada Petrus, dan Ia juga tidak akan menyerah pada kita. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar dengan sopan

Lunggu Santo Joseph

TANGIANG ROSARIO BAHASA BATAK: HAHOMION LAS NI ROHA

Lunggu St Joseph rap martangiang Rosario Hahomion Las ni Roha Tangiang Rosario Hahomion Lasniroha na parjolo sian opat hahomion dibagasan Ta...